Aku Kangen Ayah…

2 10 2010

Seperti biasa, Rudi, seorang Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”

“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

*****
Ditulis kembali dari catatan Facebook Mbak Hasna Harahap.:)





Pelangi dan Harapan Sang Adik…

30 09 2010

“Lihat…!” seru seorang adik kepada kakaknya.

“Ada pelangi kak, Subhanallah… Cantik ya kak…” kata sang adik kemudian.

Sang kakak hanya terdiam sambil terus melihat pelangi yang bersinar di ujung cakrawala.

Sejurus kemudian tersenyum manis pada adiknya yang sedari tadi berada di sampingnya.

“Kak… Siapa yang bisa mengecat pelangi, sehingga jadi indah seperti yang kita lihat…?” tanya adik kepada kakaknya.

“Pelangi yang indah itu, yang kita lihat sekarang adalah ciptaan Allah” kata sang kakak menjelaskan.

“Lalu, selain mengecat pelangi, Allah bisa apa lagi kak?” tanya adik kemudian.

Sang kakak tersenyum, lalu melihat ke arah pelangi itu kembali.

“Allah bisa segalanya dek, Allah bisa menciptakan manusia, kambing, tumbuhan dan seemuaaa yang ada di bumi ini” kata sang kakak.

“Apakah Allah bisa mematikan semuanya kak?” tanya sang adik kembali.

“Tentu bisa, semuanya bisa Allah lakukan” jawab sang kakak.

“Berarti Allah yang membawa ayah dan bunda ya?” tanya sang adik dengan mata berkaca-kaca.

Sang kakak menghembuskan nafas beratnya. “Allah mengambil orang tua kita karena Allah sayang sama kita. Allah ingin kita kuat untuk menghadapi tantangan dunia!”

“Kalau begitu, Allah belum boleh mengambil kakak dari adek. Adek pengen kakak tetap terus bersama adek” kata sang adik.

Sang kakak hanya bisa tersenyum miris mendengarnya.

***
Ditulis kembali dari catatan Facebook seorang sahabat.
Karya: Dilara Reyhan :)





Nantikanku di Batas Waktu

29 09 2010

Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci

Tak perlu engkau menyangsikan…

Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata…

Sungguh… Walau ku kelu untuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku jangan salahkan…

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
Nanti ku bawa kau pergi ke surga abadi…

Kini belumlah saatnya
Aku membalas cintamu…

Nantikanku di batas waktu…

By: Edcoustic
Nantikanku di Batas Waktu.





Iman Paling Menakjubkan

29 09 2010

Suatu hari Nabi Muhammad saw bertanya kepada para sahabat dan pengikutnya. “Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjuakan (man a’jabul khalqi imaanan)?”

Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat…!”

Nabi menukas, “Bagaimana mungkin para malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Allah…?”

Sahabat menjawab lagi, “Kalau begitu, para Nabi lah yang imannya paling menakjubkan…!”

“Bagaimana mungkin para Nabi tidak beriman, sedangkan wahyu turun kepada mereka…?” sahut Nabi.

Untuk yang ketiga kalinya para sahabat mencoba memberikan jawaban, “Kalau begitu sahabat2mu ya Rasul…!”

Nabi pun lalu menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana mungkin sahabat2ku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan sendiri apa yang mereka saksikan.”

Nabi pun lalu meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku walaupun mereka tidak melihatku. Mereka amalkan apa yang ada di dalam Alqur’an dan Hadits. Mereka bela aku seperti kalian membelaku. Alangkah ingin aku berjumpa dengan ikhwanku itu.”

Teman-teman, dari cerita di atas, Nabi Muhammad saw sedang menghibur kita. Beruntunglag kita yang walaupun belum bisa melihat Rasulullah saw dan hidup di jaman bersama beliau, tapi kita tetap meyakini dan mengimani beliau. Kita tetap cinta kepadanya, menjalankan segala sunnahnya dan membela beliau serta ajaran agama yang dibawakannya.

“Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku.” Nabi mengucapkan kalimat ini satu kali.

Sedangkan konon, Nabi mengucapkan kalimat, “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal dia tidak pernah melihatku.” sampai tujuh kali.

Shallallahu ‘ala Muhammad.
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

-dari berbagai sumber-





Surat Buat Ukhti…

27 09 2010

Assalamu’alaikum wr wb.
Ukhti. Apa kabarmu di sana? Hmm… Semoga dirimu baik2 saja. Begitu juga dengan diriku di sini yang masih tetap sehat dan semangat.

Maafkan aku ya ukhti, jika selama ini aku tidak pernah sms atau telpon kamu untuk sekedar ber “say hello” menanyakan kabar.
“Gimana kabarnya hari ini ukhti?”
“Ukhti sudah sholat?”
“Ukhti sudah makan?”
Atau kalimat basa-basi lainnya.

Bukan aku tidak peduli dan tidak mau tahu tentang kondisimu saat ini, karena ku yakin pasti Allah akan selalu menjagamu dan melindungimu dalam setiap langkah dan dalam segala aktifitasmu hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Dan tanpa aku tanya pun, pasti kau selalu berhati2 di sana. Menjaga hati dan dirimu dengan sebaik mungkin untuk seseorang yang nanti akan menjadi pendampingmu, dan aku tahu orang itu belum tentu aku.

Mungkin aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan di sana. Aku juga tidak bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Tapi aku yakin, Allah Maha Tahu segalanya.

Maafkan aku uhkti…
Sesungguhnya mata, hati dan pikiran ini tidak ingin sekali2 berbuat zina.

Aku tidak ingin mengajak mata kita berzina karena saling berpandangan.
Aku tidak ingin mengajak kaki kita berzina karena saling berkunjungan.
Aku tidak ingin mengajak lidah kita berzina karena saling memanggil “sayang.”
Dan aku pun tidak ingin membuat hati kita berzina karena saling memikirkan satu sama lain.
Aku tidak ingin cinta suci kita akan ternoda dan menjadi sia2 karena hawa nafsu belaka.

Untuk saat ini, aku hanya bisa mencintaimu dalam diam. Karena diamku adalah bukti cinta sejatiku padamu. Jika Allah menghendaki, pasti kita akan berada di ujung jalan bersama.
Semoga… :)

Sanggau, 27 September 2010





Alhamdulillah, bisa nulis (di blog ini) lagi…

26 09 2010

Sumber gambar dari google.com

Alhamdulillah…
Akhirnya untuk yang pertama kalinya semenjak terakhir kalinya saya meninggalkan sementara blog ini (saya lupa waktu persisnya kapan), saya bisa menulis kembali dan memposting sebuah artikel di blog ini lagi. Bukannya saya sok super sibuk atau super yang lainnya. Ya mungkin dikarenakan banyaknya tugas dari kantor membuat saya tidak sempat lagi ke warnet untuk ber-blogging ria. Kalau pun ada sedikit waktu luang untuk mengakses internet, itu pun biasa hanya saya lakukan via Hape saja, biar gak repot kemana-mana cari warnet, he…

Selama mengakses internet via Hape, saya juga sempat bergabung dengan blog Kompasiana.com dan sempat juga ada beberapa tulisan yang saya posting di sana. Untuk blog wordpress.com sendiri memang sulit diakses via Hape. Jadi jika kita ingin memposting sebuah tulisan, ya harus mengakses via warnet.

Sebelumnya saya sampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada teman-teman semua yang telah memberi komentar atau pun suatu pertanyaan di blog saya ini, namun saya belum sempat menjawab dan membalasnya. Insya Allah jika ada waktu luang lagi, saya akan menyapa teman-teman kembali. Bagi teman-teman yang ingin berkenalan dengan saya lebih lanjut lagi, bisa diakses lewat profile saya:

blog kompasiana.com/panggah_santoso
profile facebook.com/panggah_santoso

Sanggau, 26 September 2010





Hampir Putus Asa

26 09 2010

“Aku bingung Nyai, sekarang aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Tanpa sadar, kata-kata keluhan itu keluar dari mulutnya.

“Dan aku pun tidak tahu, apa yang selama ini aku lakukan itu benar atau salah” keluhnya kembali.

“Kalau kita tahu apa yang kita lakukan itu benar, maka kita tidak akan pernah bisa belajar dari kesalahan, Kang Mas” ujar sang istri tercinta mencoba untuk mengingatkan suaminya.

“Mungkin, aku menganggap hidup ini terlalu sederhana bagiku. Apa aku harus bertindak yang sebaliknya?” ujarnya kembali.

“Jika Kang Mas bertindak yang sebaliknya, mungkin aku tidak akan pernah bisa mengenal seorang Darwis yang tangguh seperti sekarang ini” nasehat dari sang istri terucap kembali.

Kemudian istrinya kembali berkata, “Sejak saat pertama kali kita bertemu, Aku mengenalmu lain daripada pemuda yang lain. Engkau bisa melihat adanya suatu kebenaran ketika yang lain belum bisa melihatnya. Engkau berani merubah adanya suatu kekeliruan ketika yang lain tidak berani merubahnya.”

Sejenak dia berhenti, untuk menghela nafas dan melanjutkan kembali perkataannya, “Oleh karena itulah, ketika engkau melamarku dulu, Aku tidak perlu lagi melakukan Sholat Istikharah seperti yang Ayah sarankan kepadaku. Karena Aku sudah yakin dengan pilihan hatiku. Aku hanya bisa berhajat kepada Allah, semoga engkau bisa menjadi Imam dan pemimpin yang baik bagi diriku dan tentunya juga berguna bagi umat” ucapnya sambil tersenyum. :)

Tak disangka, kata-kata yang terucap dari mulut sang istri tercinta sangat menyentuh hatinya. Digenggam tangan istrinya erat-erat. Dia coba tahan dengan sekuatnya air mata yang terasa mulai keluar dari kelopak matanya yang sudah mulai keriput.

Istrinya kemudian mencoba untuk menghibur suaminya dengan membacakan sebuah potongan ayat dalam Alqur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan meneguhkan kedudukanmu.” (Qs. Muhammad: 7)

“Aku yakin, Kang Mas pasti bisa melewati semua ujian dan tantangan dalam dakwah ini. Percayalah, Allah pasti akan selalu bersamamu. Apa pun yang terjadi, tentunya Aku akan selalu ada di sampingmu” ujar sang istri tercinta kembali menguatkan hati suaminya.

Kata-kata dan nasehat yang keluar dari mulut sang istri pun kembali menggugah semangatnya. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi ke-putus-asa-an, dan harapan itu seolah datang untuk menyambutnya kembali.

Dia sangat bersyukur sekali karena telah dikaruniakan seorang istri yang soleha. Seorang istri yang bisa menghiburnya di saat sedih, mengingatkan dirinya di saat terlupa dan menasehatinya di saat mulai putus asa.

******
Sungguh benar, harta dan perhiasan yang paling berharga di dunia ini bagi seorang suami adalah istri yang SOLEHA.

Semoga bisa memberi inspirasi bagi teman-teman semua. Apabila ada kesamaan nama tokoh dan kejadian pada cerita di atas, itu hanya kebetulan saja. :)

-inspirasi Sang Pencerah-








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.