Category Archives: Motivasi Diri

Musda ke-1 LSK Kab. Sanggau

ssdafsdgrgegege

***

Alhamdulillah… Pengurus LSK (Lingkar Siswa Khatulistiwa) Kab. Sanggau telah sukses mengadakan Musyawarah Daerah (MUSDA) ke-1 dalam rangka pergantian dan pelantikan kepengurusan yang baru. Acara Musda ke-1 LSK Kab. Sanggau dilaksanakan pada hari Ahad, tanggal 7 Februari 2016, bertempat di Gedung BAZ Sanggau. Peserta yang diundang dalam acara ini adalah organisasi Rohis SMA se-Kab. Sanggau. Sedangkan tamu yang diundang antara lain, perwakilan guru agama SMA, perwakilan dari Dinas Pendidikan Sanggau, perwakilan dari Kementrian Agama Sanggau dan beberapa Ormas terkait yang ada di Kabupaten Sanggau. Dalam acara Musda kali ini panitia mengusung tema : “Bersama Lingkar Siswa Khatulistiwa (LSK) Kab. Sanggau Kita Berukhuwah Menuju Generasi Rabbani”.

Ada beberapa kegiatan yang memeriahkan acara Musda kali ini, diantaranya Long March dan Bakti Sosial kebersihan lingkungan di seputaran Kota Sanggau. Kegiatan long march dimulai tepat pada pukul 06.30 wib, dimulai start dari halaman gedung BAZ Sanggau dengan rute: Gedung BAZ – Ilir Kota – Pasar Senggol – Vihara Pasar Senggol – Pasar Rawa Bangun – SMPN 2 Sanggau – Masjiad Agung Sanggau dan berkumpul kembali di halaman gedung BAZ. Selama kegiatan long march ini, para peserta melakukan Bakti Sosial dengan aksi kepedulian lingkungan yaitu memungut sampah-sampah yang ada di jalan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sudah disediakan oleh panitia.

IMG-20160207-00417

IMG-20160207-00419

***

Setelah kegiatan long march dan bakti sosial selesai dilaksanakan, para peserta berkumpul untuk beristirahat sejenak dan dilanjutkan dengan acara bagi-bagi/tukar kado dan hadian sesame peserta kegiatan. Selain itu juga ada doorprize yang dibagi-bagikan oleh panitia, tapi dengan syarat sebelum mendapatkan hadiah para peserta  harus bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan oleh panitia. Adapun pertanyaannya gak terlalu susah kok, hanya seputar ilmu agama dan kisah para Rasul. Ternyata banyak adik-adik peserta yang antusias dengan acara pembagian doorprize ini, sampai-sampai ada yang sudah dapat malah tunjuk tangan lagi ikutan rebutan untuk menjawab pertanyaan berikutnya. Hehe… Subhanallah, begitu aktifnya adik-adik SMA peserta Musda kali ini, berani menerima tantangan. Allahu Akbar.

Sebelum Musda dimulai, acara ini dibuka terlebih oleh beberapa acara hiburan, diantaranya Penampilan Berkisah yang dibawakan oleh Utin Yeni dan Rini Atutik, kemudian Pembacaan Puisi yang dibawakan oleh Witriyanti Rahayu Clara Putri.

IMG-20160207-00420

***

Tiba pada acara inti, yaitu Musyawarah Daerah (Musda) untuk pelantikan pengurus LSK Sanggau periode 2016-2019. Dimulai oleh Laporan kegiatan oleh Ketua Panitia, yaitu Kurniawan. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari perwakilan Kementrian Agama Kab. Sanggau, yaitu Bpk. Abdurrahman sekaligus membuka acara Musda LSK Kab. Sanggau. Setelah itu, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua LSK Kab. Sanggau terpilih, Isaq Qodari, S. Pd. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan secara singkat tentang lembaga LSK Kab. Sanggau. Dimana LSK Kab. Sanggau hadir sebagai wadah organisasi keislaman bagi para pelajar di Sanggau. LSK Kab. Sanggau dibentuk untuk mengarahkan dan menyalurkan kagiatan-kegiatan yang positif bagi pelajar SMA dan SMP yang ada di Kab. Sanggau, diantaranya Kegiatan Mentoring, Pendidikan dan Pelatiahan untuk pengembangan kepribadian, Kegiatan Lomba-lomba, dan berbagai kegiatan lainnya yang bernilai mendidik dan membangun.

Di akhir acara, setelah ditutup dengan pembacaan doa yang dibawakan oleh Ariz Febrian, Ketua LSK Kab. Sanggau terpilih dan beserta pengurus inti lainnya, resmi dilantik dengan mengucapkan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Bpk. Kurniawan Widodo, S, Hut. M. Pd selaku ketua LSK Pusat Kalimantan Barat.

IMG-20160207-00421

***

Berikut Pengurus inti LSK Kab. Sanggau periode 2016-2019 :

Ketua : Isaq Qodari, S. Pd

Seketraris : Yeni Marvanti, S. Pd

Bendahara : Dewi Lestari

Bidang Kaderisasi : Sutriyati, S. Pd

Biadang Pendidikan & Pelatihan : Entin Supriyantini

Bidang Syiar & Media : Panggah Santoso, ST

Mari kida doakan bersama agar para pengurus LSK Kab. Sanggau yang terpilih bisa istiqomah dalam menjalankan tugasnya. Semoga bisa menjadi motor gerakan dan penggagas kegiatan yang bermanfaat bagi kemajuan Tunas Bangsa, Pelajar dan Pemuda Muslim yang ada di Kab. Sanggau.

Aamin, ya Robbal ‘aalamiin…

*Sanggau, 7 Februari 2016

BLIND SPOT (Titik Buta)

blindspot.logo

***

Sudah kita ketahui bersama bahwa semua petinju profesional pasti memiliki pelatih. Bahkan petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun pasti juga memiliki pelatih. Padahal, jika mereka berdua disuruh bertanding (petinju dan pelatihnya),  maka jelas Moammad Ali lah yang akan menang. Pernahkah kita beratnya, kenapa petinju sehebat Mohammad Ali tetap butuh pelatih?

Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat darinya dan mampu mengalahkan dirinya, namun ia butuh pelatih karena ia butuh seseorang yang mampu melihat “hal-hal” yang tidak dapat ia lihat sendiri.

“Hal-hal” yang tidak dapat kita lihat dengan mata kita sendiri itulah yang disebut dengan “BLIND SPOT” atau TITIK BUTA.

Kita hanya bisa melihat “BLIND SPOT” tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser bahkan menyimpang.

Kita butuh orang lain yang bisa menasehati, mengingatkan, bahkan mnegur jika kita mulai melakukan sesuatu hal yang keliru yang bahkan kita tidak pernah menyadarinya.

Dibutuhkan KERENDAHAN HATI untuk bisa menerima kritikan, menerima nasehat, dan menerima teguran yang bahkan bisa menyelamatkan hidup kita.

Sadarilah, bahwa kita bukan manusia sempurna. Biarkan orang lain menjadi “mata” di area “Blind Spot” kita, sehingga kita bisa melihat “hal-hal” yang tidak bisa kita lihat dengan pandangan kita sendiri. Ketahuilah, bahwa hati yang selamat itu adalah yang pemiliknya selalu rendah hati dan senang menerima nasehat.

Allah Ta’ala berfirman,

  1. “Demi Masa”
  2. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”
  3. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Umar bin Khatb ra pernah berkata, “Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasehat”

Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang beriman, senang beramal soleh, mau menerima nasehat dan suka menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sehingga kita semua tidak berada dalam kerugian. Aamiin.

Sumber:

Artikel grup WA

 

Kisah Merawat Nenek

doa-seorang-nenek
***
Ada seorang remaja wanita masih duduk di kelas 2 SMA. Setiap hari dia ditugaskan untuk merawat neneknya. Neneknya sudah tua, hidupnya hanya dihabiskan di tempat tidur.

Suatu saat, ia mulai protes karena ketidakadilan yang dirasakannya.

“Ma, gantian dong yang ngerawat nenek. Masa’ setiap hari harus aku.”

Kemudian mamanya menjawab, “Nak, merawat nenek pahalanya banyak.”

Sesekali anak itu mau menuruti mamanya. Tapi di saat lain, dia mulai protes lagi.

“Ma, gantian dong yang merawat nenek. Masa’ setiap hari harus aku. Kenapa harus aku? Kenapa tidak mama? Kenapa tidak papa? Kenapa tidak kakak atau adik yang harus merawat nenek? Tapi kenapa harus aku ma?” protesnya mulai keras.

Mamanya memeluk sambil menangis, “Nak, kamu sudah besar. Kamu benar-benar mau tahu kenapa?”

“Iya ma…”

“Dulu, waktu kamu masih berumur 6 bulan, malam itu rumah kita kebakaran. Semua orang menyelamatkan diri dan barang-barang yang bisa diselamatkan. Papa dan nenek menggendong kakak-kakakmu, dan mama menggendong kamu. Setelah kami keluar semua, papa bertanya, “mana bayinya?”

Tanpa sadar yang mama gendong ternyata bukan bayi, tapi guling. Kami baru sadar, ternyata kamu masih berada di dalam rumah, di lantai 2. Tiba-tiba saja dari arah belakang, lari menerjang masuk ke dalam rumah. Ternyata nenekmu nak, nenekmu..! Lari memaksa masuk ke dalam rumah, kemudian naik menerobos ke lantai 2. Setelah membawamu, nenek terjun dari lantai 2, terjun sambil menggendong kamu, sehingga kamu selamat. Dan mulai saat itulah, nenekmu lumpuh…”

Anak itu terdiam, sambil meneteskan air mata, tanpa suara…

Mulai saat itu, ia tidak pernah lagi protes saat-saat disuruh merawat neneknya. Bahkan, hari-harinya ia habiskan untuk merawat neneknya. Ia sangat senang, dan bangga bisa merawat neneknya. Ia bangga pada neneknya. Tiada kesenangan selain kesenangan merawat neneknya.

 

***

Andaikan kita tahu, kenapa berbuat sesuatu? Pastilah kita akan bekerja dengan ikhlas, tekun dan serius. Suatu saat kita akan paham, apapun akan kita lakukan untuk membahagiakan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Karena Allah, sangat-sangat mencintai kita. Dan kita, mencintai Allah…

 

# Bagus Hernawo

(Pengasuh Pesantren Enterpreneur)

Nasehat Anak Kecil Kepada Abu Hanifah

sombong_ny_kucing

***

Suatu hari, Numan bin Tsabit atau yang biasa kita kenal sebagai Abu Hanifah Rahimahullah atau Imam Hanafi Rahimahullah, bertemu dengan seorang anak kecil yang berjalan dengan sepatu kayu.

Sang Imam berkata kepada anak kecil itu, “Hai nak, hati-hati dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kamu tergelincir.”

Anak kecil itu pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.

“Bolehkan saya Tanya nama anda, tuan?” Tanya si anak kecil itu.

“Namaku Numan”, jawab sang Imam.

“Jadi, tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-Imam al-A’dhom (Imam Agung) itu?” Tanya si anak kecil.

“Bukan aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku”, jawab sang Imam.

“Wahai Imam, hati-hatilah dengan gelar anda, jangan sampai tuan tergelincir ke neraka karena gelar itu”, nasehat sang anak kecil.

Kemudian anak kecil itu melanjutkan, “Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelar anda itu dapat menjerumuskan anda ke dalam api neraka yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan yang menyertainya.”

Abu Hanifah Rahimahullah pun langsung tersungkur menangis. Beliau sangat bersyukur, siapa sangka peringatan itu ternyata datang dari seorang anak kecil.

Begitu tawadhunya (rendah diri) seorang Imam Mujtahid (Abu Hanifah Rahimahullah) yang mau menerima ilmu dan nasehat dari siapa saja selama itu benar, termasuk nasehat dari anak kecil tadi.

Begitu juga dengan gelar, julukan, pangkat dan jabatan yang ditujukan kepada kita. Jangan pernah kita merasa berbangga diri dari padanya, apalagi sampai sombong dan angkuh. Semua itu hanyalah pemberian dari manusia, dan sesungguhnya hanya Allah lah yang tahu siapa diri kita, bagaimana aib kita, dan dosa-dosa yang ada pada diri kita. Segala puji dan puja yang kita terima selama ini, sesungguhnya bukanlah karena kehebatan yang kita miliki, namun karena sesungguhnya Allah masih menutupi aib diri kita.

Teruslah untuk bersikap tawadhu (rendah diri), jangan sombong dan angkuh. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari sombong.” (HR. Thabrani).

 

Diambil dari kisah Inspiratif

Disampaikan oleh Akh Apriadi pada Taujih Taklim UPPA

Selasa, 1 Desember 2015

Di Kota Sanggau

Mengapa Harus Beramal Jama’i?

tangan-saling-berpegangan-2

Sumber Gambar: Google.com

Apa itu amal Jama’i?

Amal berarti bekerja , berbuat atau menghasilkan.

Bagi seorang muslim, beramal berarti bekerja, berbuat dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaan bagi dirinya, umat dan agama.

Jama’i berasal dari kata jama’ah. Jama’ah adalah suatu perkumpulan orang-orang  tertentu untuk mencapai hal-hal tertentu. Paling sedikit terdiri dari 2 orang atau lebih.

Amal Jama’i adalah kegiatan yang dilakukan yang merupakan produk suatu keputusan jama’ah yang selaras dengan manhaj (system) yang telah ditentukan bersama untuk mencapai tujuan tertentu.

 

Mengapa harus beramal Jama’i?

  1. Perintah dari Allah Wubhanahu Wa Ta’ala.

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

  1. Teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Rasulullah mengungkapkan pentingnya jama’ah dalam eksistensi islam. Hal ini bisa kita temukan dalam untaian doa yang beliau sampaikan pada saat perang badar:

“Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika kelompok pemeluk Islam binasa, maka Engkau tidak akan diibadahi lagi di muka bumi.” (HR. Bukhari)

Dari Al-Harits Al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda:

“Saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Allah memerintahkan hal tersebut: mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama’ah.” (HR. Ahmad dan At-Turmudzi)

  1. Ada ibadah yang lebih baik dilakukan secara berjama’ah:

Sholat, Menunaikan Ibadah Haji dan Mengkaji kitab Al-Qur’an akan lebih baik nilai pahalanya jika dilakukan dengan berjama’ah.

  1. Orang kafir beramal Jama’i untuk melawan umat Islam

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73)

 

Manfaat Amal Jama’i

  • Mengenal diri

Contoh sederhana, jika seseorang membaca Qur’an sendirian, dia tidak menyadari kekurangan dan kesalahan bacaannya. Akan berbeda jika bacaannya disimak oleh saudaranya,kesalahan dan kekurangannya bisa diketahui dan segera diperbaiki.

  • Menyempurnakan kekurangan diri

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati dalam  kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

  • Meningkatkan semangat ibadah

Contoh yang sering disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikutan wangi. Namun jika kita berteman dengan seorang tukang besi, maka akan ikutan bau asap. Begitu juga dalam beramal, jika kita selalu berteman dan berkumpul dengan orang-orang soleh, maka akan selalu termotivasi dalam beramal soleh.

  • Mengoptimalkan potensi diri

Bubur pedas yang lezat terdiri dari berbagai macam bahan dan bumbu. Bubur pedas tidak akan bisa diolah jika hanya ada beras dan air saja. Bahkan, jika semua bahan sayuran sudah lengkap, tanpa adanya bumbu garam, makanya rasanya akan kurang nikmat.

Begitu juga kita, tanpa berjama’ah maka potensi diri kita akan kurang teroptimalkan. Dalam amal jama’i, sekumpulan orang yang memiliki berbagai macam kemampuan, keahlian dan pengalaman jika dimanfaatkan dengan baik bisa dikolaborasikan untuk mengembalikan kejayaan Islam.

  • Menjaga kewibawaan umat muslim

Ketika kebersamaan umat Islam begitu kuat, maka musuh-musuh Islamakan berpikir seribu kali untuk mengganggu kita. Kaum muslim itu ibarat satu tubuh, jika satu bagian diganggu akan merasakan dan ikut memberikan gangguan.

  • Mendapat rahmat dan pertolongan dari Allah

“Tangan Allah bersama Jama’ah” (HR. Turmidzi)

Maksudnya,  ketenangan dan rahmat Allah bersama orang yang bersepakat, sehingga mereka jauh dari ketakutan, gangguan dan keguncangan. Apabila mereka berpecah belah, ketenangan hilang, kekacauan akan datang.

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tetap istiqomah dalam melakukan amal jama’i sehingga kejayaan Islam bisa tegak di muka bumi ini. Insya Allah.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Khozin Abu Faqih. 2006. Melangkah Bersama ke Surga. Bandung: Harakatuna Publishing
  2. Buku Panduan Mentoring Pendidikan Agama Islam. Politeknik TEDC Bandung
  3. Qur’an.com

 

Semangat Menghafal Dengan Tahfiz Jama’i

IMG-20151113-WA001

Tahfiz Perdana di Masjid Al-Ikhlas

***

Tahfiz Jama’i, mungkin teman-teman sekalian banyak yang bertanya-tanya, karena baru mendengar istilah ini. Jenis ibadah apa lagi ini? Syar’i gak nih? Bid’ah gak tuh? Tenang…, ini bukan jenis ibadah baru atau sesuatu hal yang dibuat-buat. Ini adalah sebuah kegiatan/program untuk belajar mengafal Qur’an secara jama’ah atau bersama-sama.

Ya, sesuai dengan namanya Tahfiz Jama’i terdiri dari dua kata, yaitu Tahfiz (menghafal) dan Jama’i (berjama’ah/bersama-sama). Kegiatan ini digagas oleh teman-teman IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) Kab. Sanggau. Mungkin di daerah/kota lain juga sudah sudah ada dan pernah dilaksanakan program ini sebelumnya, hanya namanya saja yang mungkin berbeda. Program Tahfiz Jama’i biasanya terdiri dari 5-10 orang per masing-masing kelompok dengan didampingi oleh 1 orang ustadz/murobi sebagai pembimbing.

Adapun kegiatan Tahfiz Jama’i di Kab. Sanggau pertama kali dilaksanakan pada hari Jum’at, tgl 13 Nopember 2015 bertempat di Masjid Al-Ikhlas dekat Pasar Senggol Sanggau. Adapun surat yang dihafal dimulai dari surat Al-Mujadalah (58) atau awal juz 28 hingga seterusnya. Kemudian untuk jadwal rutinnya insya Allah akan dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yaitu setiap Jum’at malam ba’da sholat isya berjama’ah di Masjid Al-Ikhlas (Pasar Senggol) dan setiap Minggu pagi ba’da ceramah subuh/coffee morning di Masjid Agung Sanggau.

Alhamdulillah, sejak ikut program ini saya sudah hafal 5 ayat (bukan riya’ ya, hehe…). Hhmm… lumayan kan, seminggu dapat 2 ayat. Biar pun sedikit, tapi kalo kontinyu/istiqomah insya Allah semakin bertambah ayat, semakin kuat hafalan yang kita kuasai  dan tidak mudah hilang.

Metode menghafal 1 ayat sekali duduk dan diulang-ulang terus sebelum beralih ke ayat selanjutnya, akan terasa lebih efektif. Daripada kita langsung menghafal 5 ayat sekali duduk, tapi biasanya mudah hilang dan lupa, apalagi ayat yang baru saja kita hafal jarang dipakai.

Bukankah Allah menyukai amalan yang sedikit dapat dilakukan terus menerus?

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim No 783). Kemudian ‘Aisyah pun ketika itu melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenaiamalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Amalan yang rutin (kontinyu), walaupun sedikit.” (HR. Muslim No 782).

Selain itu, ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mengikuti program Tahfiz Jama’i ini, antara lain:

  • Menambah semangat dan motivasi untuk menambah hafalan Qur’an.

Ketika menghafal sendiri di rumah, terkadang muncul rasa malas untuk menambah hafalan Qur’an. Apalagi kita merasa hafalan kita sudah cukup banyak. Rasa malas dalam beribadah juga termasuk dalam penyakit hati. Kata Bang Opik, salah satu tombo ati (obat hati) adalah dengan berkumpul dengan orang-orang soleh yang ikut dalam program Tahfiz Jama’i. Dengan mengahafal Qur’an secara bersama-sama, secara tidak langsung kita akan ikut menjadi termotivasi dan bersemangat karena berkumpul bersama orang-orang soleh yang juga selalu semangat dalam menghafal Qur’an..

  • Belajar dan Memperbaiki makhroj dan hukum bacaan/tajwid dengan benar.

Dengan dibimbing oleh ustad/murobi yang berkompeten, kita tidak hanya sekedar mengahafal potongan ayat yang diperdengarkan, tapi kita juga menghafal ayat sesuai dengan makhroj dan hukum bacaan dengan benar sesuai tuntunan sang ustad. Biarpun kita hafal 1 lembar full dari ayat tertentu, tapi kalo bacaan kita tidak sesuai tajwid, panjang pendek tidak sesuai, masih nabrak sana nabrak sini, selain kurang enak di dengar, bisa juga merubah arti/makna dari ayat yang kita baca lho.

  • Mencegah Kantuk.

Nahh… ini nih penyakit yang sering saya alami kalo menghafal sendirian, pasti sering ngantuk. Karena gak kuat menahan godaan, ya bisa-bisa sampe ketiduran deh. Teman-teman juga gitu kan? Ngaku aja deh.. Hehe… Apalagi biasanya waktu kita menghafal itu di waktu Subuh atau Maghrib, waktu dimana cobaan mata terasa begitu beraaat. Nah, dengan adanya kegiatan menghafal bersama-sama, karena kita diminta untuk terus mengulangi hafalan masing-masing secara bergantian, kesempatan untuk ‘mengantuk’ itu juga kecil. Apalagi kalo sampe ketiduran di tengah-tengah jama’ah, wah sungguh keterlaluan banget tuh.

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mengikuti program ini. Insya Allah banyak manfaat dunia akhirat. Manfaat di dunia, kita bisa bersilaturrhim dengan ikhwah fillah satu kelompok. Manfaat akhiratnya, insya Allah banyak pahala yang berlipat-lipat karena kita duduk dalam satu majelis dan akan didoakan oleh para Malaikat. Insya Allah. Asalkan semua ini kita lakukan dengan niat lillahi ta’ala.

Ayo, segera buat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 5-10 orang, bisa dari keluarga, tetangga dekat rumah atau teman sekantor. Kemudian kita cari ustad/guru ngaji yang menguasai ilmu tajwid untuk dijadikan sebagai pembimbing dalam menghafal Quran secara bersama-sama. Jika sudah merasakan manfaatnya, teruslah istiqomah jangan berhenti di tengah jalan. Sebenarnya yang berat itu bukan masalah bagaimana memulainya, tapi bagaimana kita bisa istiqomah dalam melakukan amal kebaikan tersebut.

Bagi teman-teman sekalian yang masih belum ada waktu mengikuti program ini karena disibukkan oleh  pekerjaan kantor, urusan keluarga, urusan bisnis, mari sama-sama kita memohon kepada Allah untuk selalu dimudahkan dan diberi kelapangan waktu dalam melakukan amal kebaikan. Teruslah berdoa semoga Allah selalu memudahkan urusan kita semua. Aamiin.

 

Panggah Santoso

Sanggau, 24 Nopember 2015

%d blogger menyukai ini: